Memahami Perbedaan diantara Golongan umat Islam

tiga pemuda sedang duduk santai di dalam masijd
Masjid Istiqamah, Komplek Perumahan Perta Arun, 2016


Seiring perkembangan jaman, isu-isu mengenai Muhammadiyah, NU, Persis, Salafi,
dll. Adalah isu yang kembali di bangkit-bangkitkan kembali oleh orang-orang yang ingin mencari “sensasi” atau orang-orang yang ingin merusak ukhuwah di antara umat islam dimasa kini.

 

baik, 
 

Adalah ia dua ulama hebat dimasanya yakni KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan yang merupakan sama-sama keturunan dari Sunan Giri (Syeikh Maulana ‘Ainul Yaqin), yang apabila ditarik garis nasabnya akan sampai kepada baginda Rasulullah SAW.

Keduanya memiliki guru yang sama baik sebelum berangkat ke Makkah maupun ketika sudah berada di Makkah. ketika masih di Semarang beliau belajar dengan guru KH. Shaleh Darrot, ketika di Makkah beliau belajar dengan Syeikh Ahmad Khattib Minangkabau atau dikenal dengan Syeik Ahmad Khattib Al Minangkabauwi.
 

KH. Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis ini setiba di Nusantara (Indonesia) kala itu melihat ada hal-hal yang “aneh” terjadi di masyarakat, seperti halnya meminta sesuatu terhadap kuburan, meminta sesajen, dan lain-lain yang secara aqidah telah keliru.
 

Melihat kejadian seperti itu maka di bentuklah “Jam’iyah (ormas)” untuk memudahkan agar dakwah itu sampai kepada masyarakat, dengan misi pertamanya memperbaiki aqidah dengan benar, kemudian pada aspek kultural dan pendidikan agar menjadi lebih pintar, bagus dan lebih maju pemikirannya.
 

Nahdlatul Ulama (NU) didirikan 14 tahun setelah Muhammadiyah berdiri, yakni Muhammadiyah 18 November 1912 sedangkan Nahdlatul Ulama 31 Januari 1926, dimasa itu KH. Hasyim Asy’ari paham betul tentang pergerakan (ormas) yang dibuat oleh KH. Ahmad Dahlan sehingga beliau tidak membentuk sebuah ormas baru karena masih ada saudaranya.
 

Ketika KH. Ahmad Dahlan meninggal dunia yakni pada tahun 1925 setahun sesudahnya barulah NU lahir oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk memperkuat Tharaf’a (kitab-kitab klasik), karena beliau gemar menulis sehingga munculah ormas Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) tujuannya untuk menjaga kemurnian dari kitab-kitab klasik pada waktu itu.
 

Kalau KH. Ahmad Dahlan tadi membentuk ormas Muhammadiyah karena ingin mengembalikan Aqidah sesuai Nabi Muhammad SAW ajarkan dan berpikiran lebih maju, lebih pintar, mesti berkembang pemikirannya sehingga dinisbatkan namanya menjadi “Muhammadiyah”.
 

Namun KH. Hasyim Asy’ari berfikir, kalau semuanya seperti itu, siapa yang akan memelihara kemurnian kitab-kitab klasik itu, pemikiran klasik itu? maka lahirnya ormas Nadhlatul Ulama supaya ulama’a bangkit. 
 

Kalau semuanya ada Ulama, Rumah Sakit, pendidikan, lalu yang berdakwah siapa? maka terfikirkanlah kemudian hari membentuk Dewan Dakwah, nah ini fokusnya pada pembangunan Masjid, mengirim Da’i-da’i dan sebagainya.
 

Kemudian terfikirkan lagi untuk membentuk jaringan yang menghubungkan antar sesama umat muslim seluruhnya agar tidak terpecah-pecah, maka terbentuklah PERSIS (Persatuan Islam)., nah, ini semua sebenarnya hanya wasilah saja untuk memudahkan aktifitas kita umat islam di Indonesia. 
 

Sedangkan SALAFI ini bukan merupakan Jam’iyah (ormas) seperti halnya di atas tadi dan bukan termasuk Mazhab, ini adalah manhaj (cara hidup) orang-orang terdahulu (salaf). kalau kita mau berfikir lagi, sebenarnya kita ini termasuk SALAFI, karena kita mengikuti cara shalat yang telah di ajarkan Nabi Muhammad SAW. 
 

Adapun mereka yang disebut ulama SALAF (orang terdahulu) ialah mereka generasi terbaik 3 abad sesudah Nabi Muhammad SAW wafat batasnya, yakni Khulafaur Rasyiddin, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, termasuklah Imam 4 Mazhab didalamnya yang masih populer saat ini. 
 
Sebenarnya kita juga termasuk SALAFI (memakai pemahaman ulama terdahulu). jadi aneh rasanya kalau ada yang bilang “saya salafi, kamu bukan”, padahal shalatnya masih sama dengan yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW.
 

Waallahu’alam bishawwab

Tinggalkan Balasan